Pasukan B SMPN 1
Tarogong Kaler saat berada di Daerah Persiapan (DP) foto, pada Lomba
Ketangkasan Baris-Berbaris Gebyar Pagar – 3 tingkat SMP/MTS dan SMA/SMK/MA se-
Jawa Barat Open yang digelar di MAN 2 Garut pada 25/11/2023.
GARUT – Merasa kecewa pasukannya lomba tidak bawa pulang piala satu
pun, Aulia (14) mengungkapkan kesedihannya saat mengikuti Lomba Ketangkasan
Baris Berbaris Gebyar Pagar ke-3 yang di selenggarakan oleh Paskibra Kabupaten Garut
(Pagar). Meskipun begitu, ia dan teman-temannya sudah berusaha menampilkan yang
terbaik di lapangan. Salah seorang peserta dari SMPN 1 Tarogong Kaler itu
menyadari bahwa proses latihan yang kurang maksimal, menyebabkan penampilan
mereka kurang memuaskan di mata juri.
“Pengalaman yang gak akan
dilupain pasti nya karena lomba pertama yang gagal bawa piala sih,” ungkap
Aulia (14) saat diwawancarai (25/11/2023).
Pertama kali mengikuti perlombaan membuatnya banyak belajar tentang
keberanian dan rasa ikhlas. Proses yang mereka lalui juga tidak sebentar,
kumpulan rutin setiap minggu, latihan
setiap pulang sekolah, bahkan tak jarang latihan juga di akhir pekan. Tak cukup
disitu, penghambat proses selama latihan juga silih berganti. Mulai dari
pasukan yang jarang lengkap kehadirannya, jam latihan yang tidak boleh lebih
dari jam 5 sore, padahal tak jarang anak-anak paskibra sering latihan sampai
malam hari.
SMPN 1 Tarogong Kaler mengirimkan dua pasukannya ke perlombaan yang
digelar di MAN 2 Garut tersebut. Karena masih duduk di bangku kelas VIII, Aulia
sendiri merupakan bagian dari pasukan B yang disebut-sebut sebagai junior.
Sedangkan pasukan senior mereka, pasukan A berhasil membawa pulang piala sebagai
Juara Harapan Utama 1.
“Pas tau gak juara teh kecewa gitu sama pasukan aku tapi da udah
terlanjur juga jadi ya mau gimana lagi,” ujarnya lesu. “Beda jauh gitu pasukan
aku sama senior, senior mah bisa bawa piala buat sekolah tapi pasukan aku mah
belum bisa bawa piala buat sekolah, pas liat pelatih teh pingin minta maaf gitu
udah ngelatih kita tapi kita nya teh belum bisa bawa apa-apa buat akang teteh
yang udah ngelatih kita gitu. Meskipun kata mereka mah gapapa namanya juga
pertama kali lomba.”
Saat ditanya mengenai pengalaman yang membuatnya melupakan kekalahan,
Aulia terus menerus mengatakan tidak ada. Akan tetapi ada yang membuatnya
sedikit senang, yaitu pengalaman mendapat teman baru dari sekolah-sekolah lain,
dan bisa belajar banyak dari mereka. Ia juga turut senang karena teman-temannya
berhasil membawa pulang piala.
“Campur aduk perasaannya mah kayak ga nyangka lomba gitu, liat
pasukan SMP orang lain mah pada bagus-bagus gitu PBB nya tapi pasukan aku mah
jelek PBB nya,” ujar Aulia. Ia meneruskan, “Terus pas udah beres tampil kayak
yang ga ada harapan lagi buat juara deh.” Memang terdapat beberapa kesalahan
fatal saat pasukannya tampil di lapangan, seperti saat topi salah satu dari
mereka jatuh di tengah penampilan.
“Pelatih bilang katanya jadikan ini bahan evaluasi, perbaiki lagi
sikap katanya,” ungkap Aulia. Kegagalan
di awal masa-masa bertanding di lapangan akan menjadi pengalaman berharga yang
akan mengantarkannya ke pintu kesuksesan di masa depan. Pepatah setiap pelatih
paskibra yang selalu terngiang di telinganya adalah tentang ‘sikap adalah segalanya’.
Sikap yang menentukan akan menjadi apa diri kita esok hari. Aulia paham betul prosesnya menuju masa depan
masih panjang, sehingga ia masih akan terus berlatih dan berjuang bersama
teman-temannya untuk membanggakan dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

No comments:
Post a Comment