Sumber : pexels
Di
zaman sekarang, gaya hidup seseorang telah menjadi tren yang bisa dibagikan di
laman media sosial masing-masing. Semua orang bisa meniru dan mengetahui gaya
hidup orang lain dengan sangat mudah. Dampak posisitinya, orang-orang mulai aware terhadap gaya hidup mana yang akan
membawa pengaruh baik yang signifikan.
Salah
satu gaya hidup yang paling mengesankan adalah zero waste lifestyle. Gaya hidup nol sampah yang mampu di artikan
sebagai kebiasaan hidup seseorang dengan meminimalisir sampah yang dihasilkan.
Salah satu upayanya adalah menggunakan kembali barang atau produk sekali pakai
dengan lebih bijak untuk mengurangi jumlah dan dampak buruk dari sampah.
Konsep
zero waste mengusung 3R yakni Reduse (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang). Aktivitas 3R
mendorong kita agar sampah tidak berakhir di TPA, yang mana jelas bahwa sampah
mencemari alam dan mengganggu kelestarian lingkungan.
Prinsip
pertama adalah mengurangi pemakaian barang atau produk yang akan menghasilkan
sampah. Kedua, menggunakan kembali barang atau suatu produk untuk tujuan yang
sama atau tidak contohnya bekas kaleng yang bisa dijadikan sebagai wadah
tanaman. Kemudian prinsip ketiga yaitu mendaur ulang sampah, salah satu
contohnya yakni mengolah sampah organik menjadi pupuk.
Menurut
data sistem informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan, pada 1 Februari 2023 jumlah timbulan sampah mencapai 18,3 juta ton
pertahun, yang mana hal ini bukan jumlah yang sedikit. Perlu adanya kesadaran
pada masyarakat untuk peduli terhadap sampah agar lingkungan tidak tercemar.
Zero waste
lifestyle harus
menjadi gerakan sosial yang gencar di sosialisasikan pada masyarakat kita. Mengingat peran penting mahasiswa juga
menjadi salah satu faktor pendukung dalam berlangsungnya gaya hidup zero waste. Yang di mana, gaya hidup ini
harus menjadi budaya baik yang dimulai dari kita.
“Saya
selalu membawa tumbler saat pergi ke
kampus, agar tidak menggunakan botol plastik yang bisa menjadi sampah. Saya
juga selalu membawa totebag saat
berbelanja agar tidak menggunakan plastik untuk belanjaan yang saya beli,
supaya tidak ada sampah kantong plastik,” kata Windi, 19 tahun. Mahasiswa
Institut Kesenian Jakarta.
Pada
19 Mei 2023 Windi juga berpendapat bahwa sudah kewajiban kita untuk bertanggung
jawab dengan apa yang kita lakukan termasuk sampah yang kita hasilkan. Hal itu
menjadi sebuah kontribusi kecil bagi Windi sebagai gen-z dan budaya tersebut
akan ia bagikan pada orang-orang di sekitarnya.
Hal-hal
kecil yang dilakukan dalam gaya hidup ini, tentu sangat berpengaruh besar
terhadap lingkungan. Oleh karena itu, lakukanlah sesuatu secara konsisten agar
hasilnya terlihat dan mampu memberi dampak yang baik terhadap lingkungam.
Tidak
perlu ragu untuk memulai sesuatu yang baik, dan jangan takut untuk konsisten
terhadap hal-hal yang dianggap remeh oleh sebagian orang. Zerowaste lifestyle terkadang masih dipandang sebelah mata, namun
apapun yang kita lakukan tidak akan ada yang sia-sia.
