Monday, January 8, 2024

Tren Zero Waste Lifestyle ogah diikuti Gen-Z?

 

Sumber : pexels

Di zaman sekarang, gaya hidup seseorang telah menjadi tren yang bisa dibagikan di laman media sosial masing-masing. Semua orang bisa meniru dan mengetahui gaya hidup orang lain dengan sangat mudah. Dampak posisitinya, orang-orang mulai aware terhadap gaya hidup mana yang akan membawa pengaruh baik yang signifikan.

Salah satu gaya hidup yang paling mengesankan adalah zero waste lifestyle. Gaya hidup nol sampah yang mampu di artikan sebagai kebiasaan hidup seseorang dengan meminimalisir sampah yang dihasilkan. Salah satu upayanya adalah menggunakan kembali barang atau produk sekali pakai dengan lebih bijak untuk mengurangi jumlah dan dampak buruk dari sampah.

Konsep zero waste mengusung 3R yakni Reduse (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang). Aktivitas 3R mendorong kita agar sampah tidak berakhir di TPA, yang mana jelas bahwa sampah mencemari alam dan mengganggu kelestarian lingkungan.

Prinsip pertama adalah mengurangi pemakaian barang atau produk yang akan menghasilkan sampah. Kedua, menggunakan kembali barang atau suatu produk untuk tujuan yang sama atau tidak contohnya bekas kaleng yang bisa dijadikan sebagai wadah tanaman. Kemudian prinsip ketiga yaitu mendaur ulang sampah, salah satu contohnya yakni mengolah sampah organik menjadi pupuk.

Menurut data sistem informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada 1 Februari 2023 jumlah timbulan sampah mencapai 18,3 juta ton pertahun, yang mana hal ini bukan jumlah yang sedikit. Perlu adanya kesadaran pada masyarakat untuk peduli terhadap sampah agar lingkungan tidak tercemar.

Zero waste lifestyle harus menjadi gerakan sosial yang gencar di sosialisasikan pada masyarakat kita.  Mengingat peran penting mahasiswa juga menjadi salah satu faktor pendukung dalam berlangsungnya gaya hidup zero waste. Yang di mana, gaya hidup ini harus menjadi budaya baik yang dimulai dari kita.

“Saya selalu membawa tumbler saat pergi ke kampus, agar tidak menggunakan botol plastik yang bisa menjadi sampah. Saya juga selalu membawa totebag saat berbelanja agar tidak menggunakan plastik untuk belanjaan yang saya beli, supaya tidak ada sampah kantong plastik,” kata Windi, 19 tahun. Mahasiswa Institut Kesenian Jakarta.

Pada 19 Mei 2023 Windi juga berpendapat bahwa sudah kewajiban kita untuk bertanggung jawab dengan apa yang kita lakukan termasuk sampah yang kita hasilkan. Hal itu menjadi sebuah kontribusi kecil bagi Windi sebagai gen-z dan budaya tersebut akan ia bagikan pada orang-orang di sekitarnya.

Hal-hal kecil yang dilakukan dalam gaya hidup ini, tentu sangat berpengaruh besar terhadap lingkungan. Oleh karena itu, lakukanlah sesuatu secara konsisten agar hasilnya terlihat dan mampu memberi dampak yang baik terhadap lingkungam.

Tidak perlu ragu untuk memulai sesuatu yang baik, dan jangan takut untuk konsisten terhadap hal-hal yang dianggap remeh oleh sebagian orang. Zerowaste lifestyle terkadang masih dipandang sebelah mata, namun apapun yang kita lakukan tidak akan ada yang sia-sia.



Artikel Pilihan

7 Rekomendasi Menu Sahur, Simpel dan Mudah dibuat!

sumber: pexels Puasa Ramadhan merupakan salah satu ibadah yang wajib dijalankan oleh umat Islam. Terdapat beberapa kegiatan ibadah yang dila...